Negeri buatanku
(Seandainya) aku adalah seseorang yang kau cintai, dan aku adalah orang yang mati (rasa). Tenang, kau tidak perlu bersusah lelah mengejarku: karena aku tidak sedang berlari.
(Seandainya) kau selalu menghangatkanku, sedangkan aku adalah bara api. Aku tidak butuh itu.
Kau selalu menuliskan puisi, namun aku tidak peduli.
Kau selalu menyanyikan lagu untukku, namun aku sudah telanjur benci suaramu.
Kau selalu melontarkan kalimat "hanya kamu yang kucintai" padaku, namun sayangnya aku tuli.
Dan, kau senantiasa menyayangiku, sedangkan aku (pura-pura) tidak butuh itu.
Sesederhana itu Negeri buatanku.
Semua skenario yang ku buat di negeri imajiner tersebut adalah keterbalikan dari dunia nyata di dalam hidupku.
Realita yang hinggap di dalam hidupku: semuanya bertolakbelakang dengan negeri buatanku.
Faktanya;
Aku adalah penulis sajak yang seluruhnya tentang kamu.
Aku adalah kaum ngopi yang gulanya terbuat dari senyummu.
Aku adalah hamba pendoa yang isi doaku hanya tentangmu.
Dan, aku adalah manusia bisu: yang senantiasa melafadzkan nama indahmu.
Aku mati diinjak-injak rindu.

0 Response to "Negeri buatanku"
Posting Komentar